Kuala Lumpur, Selasa – Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan meminta ASEAN mempercepat proses integrasi perdagangan regional. Jika hal itu tidak dilakukan, maka perwujudan Komunitas Ekonomi ASEAN pada 2015 sulit tercapai.
Surin mengatakan hal itu pada Pertemuan Para Menteri Keuangan ASEAN di Kuala Lumpur, Selasa (30/11).
Pada tahun 2007 di Singapura, para pemimpin ASEAN mencanangkan tahun 2015 sebagai perwujudan ASEAN Economic Community (AEC) dengan lalu lintas barang, investasi, dan migrasi pekerja yang layaknya ada di dalam satu negara.
AEC akan menjadikan ASEAN melebihi status Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) yang hanya mengandalkan penurunan tarif ekspor-impor barang dan jasa.
Tujuan AEC adalah meningkatkan mobilitas yang menjadi dasar utama bagi perkembangan ekonomi kawasan. AEC juga dicanangkan agar ASEAN tetap menarik dalam menghadapi persaingan dari China dan India, yang menjadi ”darling” para investor global.
Tingginya mobilitas akan meningkatkan skala ekonomi pasar, yang biasanya membuat produk bisa dihasilkan pada biaya termurah. Hal inilah yang membuat India dan China menjadi sebuah pilihan paling menarik bagi investor global sekarang ini.
Surin mengatakan, perdagangan di antara sesama negara-negara ASEAN saat ini hanya 25 persen dari total perdagangan ASEAN dengan dunia. ASEAN beranggotakan Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
”Jika komunitas bisnis ASEAN tidak membuat sebuah keputusan yang tepat dengan melakukan investasi lintas batas, maka akan sangat sulit bagi saya melihat terwujudnya AEC pada tahun 2015,” ujar Surin.
Investasi lintas batas dengan halangan yang amat minim juga menjadi salah satu pilar penentu bagi AEC. ”Kita harus meningkatkan investasi di negara anggota. Kita memiliki sebuah pasar besar, manfaatkanlah,” kata Surin.
Ide AEC sudah dimulai sejak tahun 2003. Prioritas pertama yang akan diliberalisasikan lewat AEC adalah mobilitas sumber daya manusia, pengakuan kualifikasi profesional yang seragam, konsultasi ekonomi makro, dan kebijakan finansial yang lebih erat. AEC juga bertujuan mempercepat liberalisasi keuangan serta perdagangan, peningkatan infrastruktur dan komunikasi, pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN, dan lainnya.
Masih banyak kendala
Anton J Supit, pengusaha, mengatakan tidak kaget dengan pernyataan Surin itu. Masalahnya adalah tidak ada fokus dan keseriusan para pemimpin ASEAN untuk mendalami AEC.
Anton menyayangkan, Indonesia yang diharapkan sebagai pemimpin ASEAN tidak melakukan tugasnya dengan baik. ”Kita amat sulit mengharapkan kepemimpinan dari berbagai negara di ASEAN yang banyak di antaranya berwajah baru. Karena itu, Indonesia dengan kepemimpinan yang tidak lagi baru, tampil dan berperan sebagai pendorong AEC,” kata Anton.
Di dalam negeri, kita juga tidak melakukan sesuatu yang penting, seperti pembangunan infrastruktur yang kukuh, salah satu pilar utama dari AEC. Anton mengkritik Kementerian Luar Negeri Indonesia karena lebih sibuk dengan pertemuan informal yang tidak membumi.
Dibonsai dari dalam
Dari segi sosial politik, banyak kalangan menuntut ASEAN bisa lebih berperan sebagai sebuah organisasi kawasan yang mandiri dan berpengaruh. Penguatan serta kemandirian ini diyakini bisa terwujud jika ASEAN sanggup membuat berbagai macam peraturan regional yang dapat secara konkret mengubah negara-negara anggotanya.
Pernyataan itu disampaikan Deputi Bidang Politik Setwapres Dewi Fortuna Anwar, Selasa, saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015 karya salah seorang senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), CPF Luhulima.
Turut hadir sebagai pembicara: Makmur Keliat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, peneliti senior LIPI Ikrar Nusa Bhakti, dan Lina A Alexandra dari Centre for Strategic and International Studies.
Selama ini ASEAN tampil sebagai sebuah variabel dependen, yang sangat tergantung pada sikap dan kebijakan yang ditentukan negara-negara anggotanya, yang sering tidak menginginkan ASEAN mempunyai peran lebih dan bisa bertindak untuk menentukan hal yang terbaik bagi ASEAN.
Selama ini, menurut Dewi, diketahui keputusan untuk ”membonsai” ASEAN justru disepakati secara sadar oleh negara-negara anggotanya. (AFP/JOE/DWA)
sumber :
Kompas.com
-0.789275
113.921327